banner 728x250

Damai atau Perang ? Menakar Mandat Prabowo di Panggung Polikrisis Dunia

banner 468x60

SAMARINDA, LENTERAKALTIM.COM : Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Gemuruh artileri masih menjadi alarm pagi yang mencekam di Eropa Timur. Timur Tengah terus membara dan memuntahkan ketidakpastian global. Rantai pasok pangan tersendat, inflasi melonjak dan rivalitas kekuatan besar kian mengunci masa depan tata dunia.

Kita sedang hidup di era “polikrisis”, di mana berbagai krisis global terjadi bersamaan dan saling mengunci. Di tengah sengkarut geopolitik tahun 2026 ini, sebuah pertanyaan besar menyeruak : Di mana posisi Indonesia ?

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, arah diplomasi nasional kian menegaskan karakternya. Indonesia tidak lagi sekadar menjadi penonton di garis belakang. Berpegang pada mandat UUD 1945, Jakarta kini melangkah maju sebagai balancing power. Sebuah kekuatan penyeimbang yang merajut dialog, mengutamakan kemanusiaan dan menolak dikte polarisasi global.

Menjawab panggilan sejarah yang mendesak ini, Pusat Mediasi dan Resolusi Konflik (PMRK) Kalimantan Timur mengambil langkah progresif. Berkolaborasi dengan Jimly School of Law and Government (JSLG) Surabaya, mereka menggelar sebuah panggung pemikiran raksasa. Forum tersebut bertajuk Webinar Nasional: “Menakar Peran Indonesia menjadi Mediator dalam Konstelasi Geopolitik Dunia”.

Perhelatan intelektual ini akan diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting. Catat tanggalnya: Minggu, 30 Agustus 2026, dimulai pukul 09.00 WITA hingga selesai. Acara monumental ini dibuka untuk masyarakat umum tanpa dipungut biaya alias gratis. Mengingat bobot materi yang sangat krusial, panitia membatasi kuota peserta demi menjaga efektivitas diskusi.

Inisiator sekaligus Ketua PMRK Kalimantan Timur, Dr. Arie Ramaliasnyah, SH, MH, dijadwalkan akan membuka langsung webinar ini. Menurutnya, acara ini bukan sekadar diskusi akademik, melainkan manifesto untuk menggali kembali DNA diplomasi Indonesia.


Dr. Arie Ramaliansyah, SH, MH

Untuk mengupas tuntas kompleksitas ini, empat begawan lintas disiplin ilmu dihadirkan sebagai narasumber. Nama pertama adalah Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH, MH, Ketua Mahkamah Konstitusi RI periode 2003-2004 sekaligus pendiri JSLG. Bersamanya, hadir Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Prof. Hikmanto Juwana, SH, LL.M, Ph.D, seorang pakar hukum internasional terkemuka.

Dari bilik strategi pertahanan, hadir Mayor Jenderal (Purn) TNI Dr. Rido Hermawan, M.Sc, Mantan Deputi Bidang Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan Lemhannas RI. Melengkapi kuartet pemikir ini, Dra. Halida Nuriah Hatta, MA, pakar komunikasi sekaligus analis sosial-ekonomi, akan menyoroti dampak krisis pada masyarakat.

Jalannya debat gagasan ini akan dipandu oleh empat srikandi akademisi yang bertindak sebagai moderator. Mereka adalah Prof. Dr. Hesti Armimulan, SH, M.Hum (Guru Besar FH Universitas Surabaya) dan Prof. Dr. Chomariyah, SH, MH (Guru Besar FH Universitas Hang Tuah Surabaya). Hadir pula Dr. Tina Alemia, SH, MH, HM (Penulis dan Editor Buku), serta Prof. Dr. RR Dewi Anggreani, SH (Ketua LP3M IBLAM). Kehadiran para srikandi ini menjamin alur diskusi akan mengalir dengan cerdas dan tajam.

Akar dari webinar ini sesungguhnya tertanam kuat pada sejarah kelahiran bangsa. Pancasila lahir dari pengetahuan geopolitik atas realitas sistem internasional yang anarkis. Pancasila adalah cetak biru filosofis tentang bagaimana dunia harus dibangun : bebas dari kolonialisme dan imperialisme modern. Sejarah mencatat bahwa ladang bermain (playing field) Indonesia adalah panggung dunia. Kita memiliki legitimasi historis yang tak terbantahkan.


Presiden RI Soekarno saat menyampaikan pidato di PBB dengan judul “To Build The World A New”. Arsip pidato tsb oleh UNESCO ditetapkan sebagai Memory of the World (MoW) atau Memori Kolektif Dunia.

Kita masih ingat pada Conference of the New Emerging Forces (CONEFO) atau Konferensi Anti Pangkalan Militer Asing tahun 1965. Kita juga mengenal pidato legendaris Presiden Soekarno di PBB pada tahun 1960 yang bertajuk “To Build The World A New”. Kala itu, Bung Karno menuntut retooling Dewan Keamanan PBB agar seluruh negara berada pada posisi setara. Roh progresif itulah yang hari ini ingin dihidupkan kembali.

Webinar nasional ini dirancang dengan tujuan yang sangat terukur. Mulai dari memberikan pemahaman radikal mengenai akar peperangan modern, hingga mengidentifikasi strategi pencegahan konflik yang efektif. Forum ini juga akan membongkar hambatan struktural mediasi internasional dan mengevaluasi modalitas diplomasi Indonesia. Hasil akhirnya adalah merumuskan rekomendasi kebijakan hubungan internasional yang taktis bagi pemerintah.

Ujung dari seluruh ikhtiar pemikiran ini adalah sebuah target agung bagi masa depan republik. Indonesia membidik reputasi sebagai “The Honest Broker”—penengah yang jujur dan dipercaya dunia. Dengan menjadi jangkar perdamaian, Indonesia memperkuat stabilitas maritim serta ketahanan nasional. Sebab, hanya dalam dunia yang damai, Indonesia bisa fokus membangun kekuatan domestiknya menuju visi Indonesia Emas.

Jangan lewatkan kesempatan emas untuk menjadi bagian dari pemikir masa depan bangsa. Segera daftarkan diri Anda sekarang juga sebelum kuota penuh melalui tautan resmi: bit.ly/webinarpmrkkaltim6. Untuk informasi lebih lanjut mengenai akses acara, hubungi panitia melalui Saudari Wiwik (08534747400) atau dr. Lisda Pradita (082157467220). Mari bersuara, karena masa depan perdamaian dunia ada di tangan kita hari ini! (imo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *