BALIKPAPAN, LENTERAKALTIM.COM : Mimpi buruk bagi supporter Perancis. Timnas Ayam Jantan Galia dipermalukan ‘Matador’ Spanyol dengan skor telak 2-0 pada laga semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion AT&T, Texas, dini hari tadi, Rabu (15/7).
Sepanjang 90+7 menit, Mbappe dan kawan kawan tampak tak berkutik. Ditekan terus menerus, ditambah aksi heroik kipper Spanyol yang beberapa kali keluar sarang untuk menyelamatkan gawang, membuat serangan Les Bleus tumpul.
Kekalahan Prancis ini membuat julukan “Ayam Sayur” menjadi trending di media sosial. “Dari awal udah kerasa sih. Perancis kayak nggak dikasih nafas”, kata Andrian Wahyu Santoso, 32, karyawan PT PPILN – perusahaan inspeksi listrik tegangan rendah, yang nobar di Pasar Segar Balikpapan.
Dini hari tadi, jarum jam baru saja melewati pukul 03.00 WITA ketika kawasan Pasar Segar, Balikpapan Baru, yang biasanya terlelap, justru memancarkan energi yang luar biasa.
Ratusan anak muda, mayoritas berjaket tebal dengan mata yang dipaksa melek, duduk merapat di kursi-kursi plastik. Pusat kuliner tempat anak muda ngumpul itu, dini hari tadi terkunci pada satu bentangan layar lebar : Semifinal Piala Dunia 2026 antara Spanyol melawan Prancis.
Laga baru berjalan 21 menit (03.21 WITA), saat Lamine Yamal striker Spanyol melakukan akselerasi magis di sisi kanan pertahanan Prancis. Pemuda yang baru berulang tahun ke-19 sehari sebelumnya itu meliuk tajam, memaksa Lucas Digne melakukan ganjalan fatal di kotak terlarang. Peluit wasit berbunyi nyaring. Penalti untuk Spanyol.
Mikel Oyarzabal jadi algojonya. Dia berjalan maju dengan ekpresi tenang dan dingin. “Ayo Oyarzabal, kasih getar gawang Prancis!” seru seorang pemuda berkaus hitam. Pemuda ini tampaknya pendukung Spanyol. Duk ! dengan sepakan kaki kiri yang terarah, Oyarzabal sukses mengecoh Mike Maignan. Jala gawang Perancis bergetar.
“GOOOLLLL!!” Pasar Segar pecah sejadi-jadinya. Ratusan anak muda melompat dari tempat duduk, saling berangkulan dan menggebrak meja plastik. Udara subuh Balikpapan langsung riuh oleh yel-yel kemenangan dini. Spanyol memimpin 1-0.

Prancis yang tersengat mencoba membalas lewat pergerakan cepat Kylian Mbappé. Menit ke-39, Mbappe mendapat ruang tembak. Tapi bola melenceng jauh. Wajahnya langsung menunduk. Frustasi mulai terlihat. Ketatnya lini pertahanan La Roja yang dikomandoi bek muda Pau Cubarsí tampil layaknya tembok baja.
Memasuki babak kedua sekitar pukul 04.05 Wita, permainan tidak berubah. Spanyol tetap mendominasi penguasaan bola di atas 65%. Perancis seperti terkunci. Strategi serangan balik mereka mati total.
Yang jadi sorotan : aksi kipper Spanyol. Setidaknya 3 kali antara menit 04.10 -04.25 Wita, dia berani keluar dari sarangnya, menyapu bola jauh di luar kota penalti. Satu diantaranya menggagalkan umpan terobosan yang hampir saja membuat Griezmann berhadapan satu lawan satu.
“Gila itu kipper. Nyawanya dijual demi gawang,” celetuk seorang penonton cewek, yang duduk bersebelahan dengan LenteraKaltim.com, sambil mengacungkan jempol.
Ketegangan di area nonton bareng (nobar) kembali meningkat seiring asap rokok yang mengepul makin tebal di bawah lampu temaram café Ratu dan sejumlah cafe disana.
Gemuruh kedua kembali menguncang kawasan Balikpapan Baru pada menit ke-58 (03.58 WITA). Lewat skema permainan satu-dua yang teramat rapi dengan Dani Olmo, Pedro Porro merangsek masuk ke kotak penalti.
Tanpa cela, Porro melepaskan tembakan keras ke sudut bawah gawang yang membuat Maignan kembali memungut bola. Skor berubah 2-0 untuk Spanyol.

“Wow ! jadi ayam sayur Perancis” celetuk salah satu penonton yang duduk di barisan tengah cafe Ratu dengan suara keras dan wajah penuh keyakinan.
Didier Deschamps mencoba merespons dengan memasukkan darah muda, Rayan Cherki dan Désiré Doué.
Laga pun berjalan semakin cepat, keras, dan menguras emosi para penonton yang mulai merasakan kantuk subuh membayang-bayangi mata mereka.
Drama paling emosional bagi anak-anak muda di Pasar Segar justru baru tercipta saat laga memasuki menit ke-83 (04.83 WITA).
Berawal dari serangan balik kilat, bola daerah matang bergulir ke jalur lari Lamine Yamal.Dengan kecerdikan dan penyelesaian akhir yang berkelas, Yamal menaklukkan Maignan untuk ketiga kalinya.Pasar Segar kembali bergoyang dahsyat. Pekikan : GOOOOL !! bergaung keras, merayakan apa yang mereka kira adalah gol penutup pesta.
Seorang pemuda bahkan sempat naik ke atas kursi plastik sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Namun, kegembiraan masif itu mendadak membeku. Di pinggir lapangan, hakim garis telah berdiri tegak sembari mengangkat bendera. Wasit meniup peluitnya. Gol ketiga Spanyol dibatalkan karena offside.
Helaan napas kecewa yang serempak terdengar dari kerumunan penonton bagaikan suara koor malam yang patah hati. Histeria luar biasa beberapa detik lalu mendadak surut, berganti bisik-bisik ketidakpuasan.

Meskipun gol indah sang bocah ajaib terampas oleh penilaian offside, sisa waktu pertandingan berhasil dikendalikan dengan sempurna oleh Spanyol. Prancis yang frustrasi kehabisan waktu dan ide, skor 2-0 tetap bertahan hingga peluit panjang berbunyi tepat menjelang waktu subuh di Balikpapan.
Spanyol resmi mengamankan tiket ke babak final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak tahun 2010 dengan catatan impresif 6 clean sheets.
Laga Perancis versus Spanyol berakhir sekitar pukul 04.52 WITA. Lampu Pasar Segar mulai dimatikan satu persatu. Penonton mulai membubarkan diri dan berjalan ke arah parkiran motor. Sebagian melangkah pulang dengan kepala tegak dan senyum lebar menyambut pagi. Sebagian lainnya pulang gontai menahan kantuk dan sisa emosi dari drama garis virtual yang baru saja merampas hysteria subuh mereka.
Tapi satu hal pasti. Dini hari itu, dari Pasar Segar Balikpapan, kita semua menyaksikan bagaimana sebuah “Ayam Jantan Galia” benar-benar dibuat jadi “Ayam Sayur” oleh “Matador” La Furia Roja. (imo/hen)











