BALIKPAPAN, LENTARAKALTIM.COM : Pukul 01.23 Wita, pertigaan Tugu Pemuda/KNPI, Gunung Pasir, meledak. Ratusan warga yang duduk di aspal, di atas motor dan lesehan di badan jalan Piere Tendean – depan rumah jabatan Ketua DPRD Balikpapan, Alwi Al Qadri, berteriak serentak : “GOOOOL!”
Di layar Videotron super jumbo selebar 3 meter, Lionel Messi baru saja menyamakan kedudukan 2-2 melawan Mesir. 79 Menit sebelumnya, Argentina masih tertinggal 0-2 dan nyaris pulang kampung dari Piala Dunia 2026.
Videotron yang terpasang di depan rumah jabatan Ketua DPRD Balikpapan, yang biasanya menayangkan kegiatan DPRD dan Pemkot Balikpapan, malam itu menayangkan siaran langsung 16 besar dari Atlanta Stadium. Masyarakat datang tanpa diundang. Ada yang sengaja datang untuk nonton, ada yang kebetulan melintas di jalan itu, lalu berhenti ikut nontong bareng.
Awalnya ramai. Namun suasana hiruk pikuk penonton berubah saat Mesir mencetak gol di menit 19 dan 67. Skor 2-0. “Waduh, selesai sudah Argentina,” guman Rusdi. 42 tahun, penjual kopi saset mengumam, sambil menyalakan rokok kedua. “Sudah pulang aja” sahut pemuda disebelahnya. Tapi tak ada yang beranjak. Semua mata tetap terpaku ke layar Videotron.

Jalan raya di depan rumah jabatan Ketua DPRD Balikpapan, difungsikan seolah tribun. Terlihat ada beberapa petugas jaga dari linmas, berlalu lalang sambil membantu arus lalu lintas.
Pada menit ke 79 drama dimulai. Umpan silang Messi, sundulan kepala Christian Romero berhasil mencuri poin bagi Argentina. 2-1.
Videotron menyorot selebrasi. Di pertigaan Tugu Pemuda itu, orang-orang yang tadinya duduk langsung lompat. “ROMEROOO!!” teriaknya memecah tengah malam. Empat menit kemudian, giliran Messi. Menerima umpan terobosan, dia melepaskan tembakan keras. Gol. 2-2.
Kali ini teriakannya beda. Ada yang terharu, setengah menangis. Ada yang saling berpelukan. Pak Darmansyah, penjaga malam SMP Negeri 1 – yang lokasiya tak jauh dari rumah jabatan Ketua DPRD Balikpapan, sambil menutup mulutnya bergumam “Ya Allah….umur 39 masih lari sekencang itu,” katanya.
Di ruang ganti Atlanta, pelatih Lionel Scaloni dikhabarkan menangis. Di Gunung Pasir, Balikpapan air mata juga jatuh. Tapi ini air mata haru. Air mata lega.
Skor imbang bertahan sampai injury time. Jantung sekitar tiga ratusan orang di pertigaan Tugu Pemuda/KNPI itu rasanya copot. Menit 90+2 terjadi kemelut. Bola liar. Enzo Fernandez. Jebol. 3-2 untuk Argentina.
Detik itu, Gunung Pasir Balikpapan seperti gempa. Klakson motor dan teriakan “ENZOOOO” bercampur jadi satu. Sejumlah orang saling memukul ringan bahu teman mereka, tanda senang. Beberapa diantaranya ada yang bersalaman. Seolah mengatakan, jagoku – Argentina selamat, gak jadi pulang kampung.
Kemenangan 3-2 itu memang krusial. Argentina lolos ke perempat final dan akan menghadapi Swiss yang unggul atas Kolumbia pada 12 Juli mendatang. Gol Messi menambah koleksinya menjadi 21 gol di Piala Dunia. Rekor sepanjang masa. Di Usia 39 tahun, dia kembali jadi pembeda.
Sementara pelatih Mesir, Hossam Hassan, meluapkan kekecewaan. “Ini perampokan. Kami pantas menang,” ujarnya usai laga. Tapi bagi warga Balikpapan, hasil itu nomor dua. Yang utama adalah momennya.
Pertandingan Argentina-Mesir selesai. Tapi orang belum bubar. Mereka masih memutar ulang gol di HP, masih ketawa, masih berdebat siapa pemain terbaik. “Kapan lagi bisa nobar seramai ini, gratis, di jalan raya pula,” kata Hasim Budi Susilo, Mahasiswa semester 6 Teknik Sipil, ITK.
Videotron kembali menayangkan kegiatan DPRD dan Pemkot Balikpapan. Jalan Raya Piere Tendean kembali jadi jalan. Yang tersisa hanya kulit kacang, bungkus rokok, bungkus permen, kotak minuman ringan dan satu cerita : bagaimana satu gol di Atlanta bisa membuat satu kota di Balikpapan berteriak bersama. (imo/hen)











